[Arsip Artikel Arniv] Memahami Perang Asimetris

ASIMETRIS ditinjau dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (2014) artinya tidak semetris atau tidak setangkup. Bahasa lainnya adalah tidak seragam atau tidak berlaku umum dari kebiasaan. Lantas arti dari perang adalah sebuah tindakan aksi fisik dan non fisik (dalam arti sempit, adalah kondisi permusuhan dengan menggunakan kekerasan) antara dua atau lebih kelompok manusia untuk melakukan dominasi di wilayah yang dipertentangkan (Sayidiman Suryohadiprojo: Pengantar Ilmu Perang, 2008). Namun pemikiran umum mengatakan perang adalah sebuah tindakan yang dilakukan salah satu pihak ataupun kedua belah pihak dengan melakukan tindakan fisik maupun non fisik kepada kelompok atau negara tertentu. Lalu bagaimana pemahaman perang asimetris, bentuknya, dan tindakan pencegahannya?

Perdebatan Pemahaman

Perdebatan dalam memahami perang asimetris terbagi ke dalam dua frame berpikir. Menurut Dewan Riset Nasional (DRN) perang asimetris (Asymmetric Warfare) adalah suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara berpikir yang tidak lazim, dan di luar aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas dan mencakup aspek-aspek astagatra (perpaduan antara trigatra: geografi, demografi, dan sumber daya alam/SDA; dan pancagatra: ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya). Perang asimetris selalu melibatkan peperangan antara dua aktor atau lebih, dengan ciri menonjol dari kekuatan yang tidak seimbang.

Dalam berbagai literatur disebutkan perang asimetris sebagai perbedaan yang signifikan terkait “kekuatan” dari aktor-aktor yang berlawanan dalam suatu konflik. Perbedaan “kekuatan” meliputi profesional berjumlah besar, senjata canggih, ekonomi maju, dan sebagainya. Perang asimetris mencakup konflik antarnegara dan antarkelompok, biasa disebut perang sipil atau perang saudara. Perang asimetris sering disebut juga dengan perang gerilya, pemberontakan, terorisme, konflik intensitas rendah, perang generasi ke-4, perang irreguler, dan sebagainya (Herry Darwanto, Perang Asimetris, https://www.kemhan.go.id).

Sebagian pemahaman lainnya mengartikan asimetris dengan menganalogikan perbedaan antara apel dengan jeruk yang jelas berlainan dari segala aspek, baik kulit, rasa, isi, dan lain-lain. Ditinjau perbedaan “asimetris” yang terbentuk atau lahir dari ketidakseragaman, dimana bersifat anomali dari tujuan, jumlah pasukan, penggunaan teknologi, dan lainnya. Sejalan dengan Land Warfare Doctrine 1, 2008, The Fundamentals of Land Warfare, Australia’s Department of Defence, menyatakan asimetri militer dapat diartikan dengan perbedaan tujuan, komposisi pasukan, kultur, teknologi dan jumlah.

Satrio Arismunandar dalam artikel berjudul“Indonesia Sebagai Sasaran Perang Asimetris” diterbitkan di Majalah Aktual (25/08/2013), perang asimetris adalah perang antara pihak-pihak yang memiliki perbedaan signifikan dalam kekuatan militer, strategi, atau taktik. Peperangan semacam itu sering melibatkan strategi dan taktik perang yang non-konvensional, di mana pihak yang lebih lemah berusaha menggunakan strategi untuk mengimbangi kekurangannya dalam kuantitas maupun kualitas. Strategi itu mungkin tidak harus bersifat militer.

Istilah “perang asimetris” ini sering digunakan dalam menganalisis perang gerilya, pemberontakan, terorisme, kontra pemberontakan, dan kontra terorisme. Semua itu pada dasarnya adalah konflik kekerasan antara militer formal melawan musuh yang informal, kurang memiliki perlengkapan, dukungan, ataupun personel, tetapi ulet. Dalam perang asimetris, ke dua pihak berusaha untuk mengeksploitasi kelemahan lawan dengan menggunakan strategi dan taktik perang konvensional maupun non-konvensional. Pihak yang lebih lemah berusaha menggunakan strategi yang lebih jitu untuk mengimbangi kekurangannya dalam kuantitas atau kualitas militer. Strategi pihak yang lemah menghindari tindakan secara militer, yang merupakan kekuatan pihak lawan.

Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu memaknai asymmetric warfare sebagai perang non militer atau dalam bahasa populernya dinamai smart power, atau perang non konvensional merupakan perang murah meriah, tetapi memiliki daya hancur lebih dahsyat daripada bom atom (http://jakartagreater.com/, 27/12/2015).

Dari berbagai sudut pandang tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat keberagaman pemikiran yang membuat disorientasi pemahaman bagi publik dalam memahami perang asimteris. Memahami perang asimetris harus diletakan pada objek (wujud) yang berbeda, wadah berbeda yang dilihat dari perbedaan kekuatan militer, strategi (taktik), teknologi, dan lain-lain dalam konteks perperangan antara negara dengan negara dan antara negara dengan aktor non negara.

Jika masih dalam suatu dimensi yang sama dan jenis yang sama, maka itu dapat dikatagorikan simetris, bukan asimetris.

Praktek (Bentuk) Perang Asimetris

Berbicara bentuk-bentuk dari penerapan perang asimetris (asymmetric warfare) diantaranya melalui “mengubah kebijakan negara sasaran” dengan ciri non kekerasan. Bila dikaitkan dengan pemahaman “Perang Asimetris” dapat dilihat pada kebijakan “One Country and Two System” yang kini tengah dijalankan oleh Cina di berbagai belahan dunia. Negara lainnya yang serupa menjalankan modusnya seperti Cina yaitu Negara Turki dengan nama operasi projeknya “Turkey Project Management“.

Tidak sampai disitu saja, kesepakatan kebijakan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bagian dari perang asimetris yang dilakukan negara terkuat atau negara yang berkepentingan atas negara sesama yang tergabung di ASEAN. Sifatnya mengintervensi urusan negara lain melalui penguasaan sumber daya ekonominya di negara yang ditargetkan. Pada hakekatnya tawaran kebijakan merupakan “Perang Asimetris” sebagai cara untuk menguasai Indonesia secara non militer. Pada abad 21 ini ancaman asimetris yang dihadapi oleh bangsa Indonesia menempatkan posisi Indonesia yang saling berlawanan yaitu Republik ini dalam posisi asimetris positif dimana Indonesia menghadapi ancaman terorisme.

Mengapa teroris masuk sebagai perang asimetris? Karena bentuk dari tindakan teroris yang merupakan asimetris dari praktek militer, ideologi, teknologi, pasukan, bahkan teroris dianggap komponen perang generasi keempat yang sering didefinisikan sebagai terorisme.

Tindakan Pencegahan

Indonesia sebagai sebuah negara besar, tentunya harus memikirkan antisipasi sekaligus meminimalisir praktek dari perang asimetris yang dilakukan negara luar. Hal terpenting adalah memperkuat basis ideologi Pancasila dan rasa nasionalisme. Disisi lain kemandirian negara secara ekonomi sangatlah penting agar pola atau modus penguasaan sumberdaya alam dan industri tidaklah dimiliki negara luar dengan mengatasnamakan investasi. Tidak kalah pentingnya modernisasi teknologi menjadi kebutuhan prioritas dalam tindakan pencegahan. Jika tidak dilakukan, negara luar akan mudahnya melakukan penyusupan berbasiskan hightec ataupun cybercrime.

Masyarakat Indonesia bersama pemerintah harus bersinergi bahu membahu mengatasi sekaligus mengantisipasi perang asimetris yang sudah berlangsung di Indonesia. Jika kesadaran diri membangun bangsa sendiri yakni “Indonesia” tidak ditanamkan pada sanubari terdalam, maka tidak menutup kemungkinan keberlangsungan Indonesia sebagai sebuah negara akan hilang. []

You might like

Halim El Bambi

About the Author: Halim El Bambi

Founder LOOKAGE.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!