Nauru, Secuil Negeri Kaya Raya yang Jatuh Miskin Akibat Kufur Nikmat

Tak banyak yang tau tentang Nauru, bahkan letaknya saja seakan hilang dari peta dunia.  Ya, itulah Nauru, sebuah negara super mini  di dunia yang cukup asing terdengar di telinga.

Nauru atau Naoero, dikenal sebagai sebuah Pulau Pleasant, sebuah negara kepulauan di Mikronesia Pasifik Tengah. Ia tetangga terdekatnya dengan Pulau Banaba di Kiribati, 300 kilometer (186 mil) ke timur. Bila sebelah barat laut, ia dekat dengan Tuvalu. Ia juga dekat dengan Kepulauan Solomon sebelah utara. Sementara lewat timur laut, dekat dengan Papua New Guinea, dan dekat dengan Negara Federasi Mikronesia dan selatan Kepulauan Marshall, sebelah selatan.

Penduduknya hanya dihuni 10.084 jiwa yang mendiami area secuil 21 kilometer persegi (8.1 sq mi), Nauru adalah negara terkecil di Pasifik Selatan dan negara bagian ketiga terkecil di dunia setelah Kota Vatican dan Monaco.

Nauru mendeklarasikan kemerdekaannya pada tanggal 31 Januari 1968 dengan ibu kota negaranya terletak di Yaren. Pada dasarnya, Nauru bukan hanya sekedar pulau super mini di dekat perairan Indonesia dan Australia, Negara ini adalah sebuah Negara kecil yang luasnya ibarat sebuah ‘telapak tangan’ saja di wilayah Pasifik Selatan Mikronesia, atau kurang lebih 500 km dari Papua Indonesia.

Dengan hanya memiliki area 21 km persegi, pulau ini bisa dikitari hanya 30 menit saja sudah sampai pada titik putaran semula.

Namun dengan ukurannya yang cukup kecil ini, jangan dianggap Nauru sebuah negara yang tidak memiliki apa-apa.

Benar, Negara ini sudah terkenal selama 30 tahun sebagai salah satu negara terkaya didunia. Pendapatan perkapitanya pada tahun 1981 mencapai 17.000 dollar. Jika dibandingkan dengan Indonesia yang hanya 530 dolar perkapita di tahun yang sama. Jumlah penduduk di Negara Nauru hanya sekitaran 13 ribu jiwa, sangat sedikit jika di bandingkan dengan jumlah penduduk di tanah air.

Nauru tumbuh menjadi negara yang sangat tajir. Mereka membangun gedung-gedung raksasa. Mengimpor mobil-mobil mewah, pesawat-pesawat komersial super mewah, semua mereka import seakan membeli kacang goreng.

Tak ada orang miskin disana, apalagi pengangguran dan bahkan gelandangan. Karena kaya dan makmurnya, negara langsung memberikan subsidi kehidupan mewah kepada semua rakyatnya tanpa kecuali. Rakyatnya dibuat bak raja dinegeri sendiri. Mereka ongkang-ongkang kaki bak pangeran dan ratu dirumahnya. Apa saja yang mereka inginkan langsung bisa dibeli. Pelesir ke Negara-negara kaya didunia pun tak menjadi masalah. Semua serba dipermudahkan oleh uang dan Negara.

Mereka makan dan minum apa saja kecuali batu dan racun. Sehingga tubuh mereka rerata mengalami obesitas yang tercatat paling tinggi didunia. Sangking makmurnya, meninggal mereka pun gara-gara obesitas, serangan jantung dan penyakit akibat lambung dan kegemukan lainya.

Lebih dari 80% angkatan kerja diangkat menjadi pegawai negeri. Para pegawai pun hebatnya tidak terikat jam kerja. Mereka boleh datang dan pergi sesuka hati. Para penganggur pun disubsidi oleh negara.

Sangking kayanya Nauru, tanpa bekerja pun para penduduk dapat merasakan hidup mewah. Rakyat tidak dikenakan pajak. Pendidikan dan kesehatan gratis, pangan disubsidi, pelajar yang ingin bersekolah keluar negeri diberi beasiswa. Bahkan begitu manjanya dibuat oleh negara, penduduk Nauru enggan jadi pekerja lapangan, apalagi banting tulang angkat pacul. Akibat penduduknya yang sudah dimanjakan dan hidup enak ini, membuat pemerintah terpaksa mengimpor tenaga kerja dari Negara lain seperti dari Australia, Cina, Kiribati dan Tuvalu, Negara kecil lainya di Samudera Pasifik.


Tampilan sudut kota Nauru. Gedung-gedung tinggi ini belakangan di jual (for sale) akibat negara memiliki hutang yang cukup tinggi.

Pertanyaannya, darimana kekayaan melimpah ini didapat Negara Nauru? Jawabanya adalah dari Fosfat.

Negara yang kaya karena kotoran burung

Pada tahun 1899, pemerintah Nauru menemukan berhektar-hektar endapan fosfat yang berasal dari kotoran burung yang sudah memfosil ribuan tahun sebagai ‘harta karun’ Negara.

Lebih dari 70% tanah Nauru terdiri dari endapan kotoran burung Guano yang menumpuk menjadi bukit-bukit atau gunung fosfat.

Inilah gunungan fosfat-fosfat yang membuat nauru kaya raya namun ini pula yang akhirnya membuat Nauru terjun bebas ke jurang kemiskinan

Maklum saja, dulunya pulau Nauru adalah markasnya koloni burung Guano yang jumlahnya berjuta-juta ekor, beranak-pinak sampai kotorannya menggunung. Kotoran-kotoran ini menurut para ahli mengandung zat fosfor yang cukup tinggi berguna untuk pupuk tanaman kelas wahid.

Endapan fosfat yang menggunung ini selanjutnya diekplorasi mulai tahun 1907. Saat itu Nauru masih menjadi bagian dari negara Australia. Maka setelah diberi kemerdekaan pada 31 Januari 1968, pertambangan fosfat dikuasai oleh penduduk pribumi. Hasilnya dipergunakan dan dinikmati penduduk pribumi.

Diperkirakan, jumlah fosfat berkualitas tinggi ini cukup besar untuk ditambang, yaitu 41 juta ton. Ini jumlah yang sangat besar untuk diekplorasi oleh Negara mini Nauru.

Akibat temuan ‘emas bau’ ini, Nauru pun diincar oleh berbagai investor asing yang dating dari berbagai dunia untuk menambang fosfor. Akibatnya, Nauru pun kaya raya karena hasil tambang yang di eksportnya. Rakyat makmur nggak pakai sumur. Gambaranya sudah dijelaskan diatas.

Lantas mengapa pula Nauru yang awalnya dikenal Negara mini kaya raya, rakyatnya makmur bak raja ini tiba-tiba menjadi bangkrut dan jatuh miskin sampai menjadi Negara pengutang terbesar didunia?

Inilah beberapa factor yang menyebabkan Nauru jatuh miskin

Eksplorasi fosfor yang rakus dan membabi-buta

Kandungan fosfor yang melimpah ini membuat Nauru terlena, manja dan pemalas. Kekayaan membuat rakyat Nauru seakan esok harinya tak jatuh miskin. Mereka terlena dalam buaian hidup mapan.

Kandungan fosfat yang mereka miliki ditambang secara gila-gilaan tanpa memikirkan efek masa depan. Hal ini mengakibatkan dua masalah sangat serius yang dihadapi Nauru; Pertama, eksplorasi besar-besaran itu membuat cadangan fosfat langsung menipis. Jumlah ekspornya menurun drastis dari dua juta ton pertahun ke Australia dan Selandia Baru, menjadi hanya 33.000 ton saja pada medio 2001.

Pendapatan perkapitanya turun dari 17.000 dolar ke angka 3.000 dolar. Tahun 2006 tercatat menjadi tahun yang sangat berat bagi Nauru karena tambang-tambang raksasa yang ada di Nauru gulung tikar akibat stok fosfat menjadi menipis. Para investor angkat koper dari Nauru. Yang masih beroperasi hanya pertambangan kelas teri atau petambang skala kecil yang tak terlalu bisa diandalkan untuk mendongkrak pendapatan negara. Nauru menelan pil pahit. Mereka tercenung dan terheran-heran. Naurun pun jatuh bangkrut, dan bahkan paling bangkrut sedunia.

Kerusakan Lingkungan massiv

Masalah kedua Nauru setelah mengalami kebangkrutan akut adalah kerusakan lingkungan. Ibarat sudah jatuh ketimpa tangga pula, itulah gambaran nasib Nauru setelah investor angkat kaki dari Nauru. Negara taka da lagi pemasukan yang mampu menopang kehidupan kenegaraan dan rakyat. Selanjutnya Nauru malah menerima ‘kiamat’ yang paling mengerikan yaitu rusaknya ekosistem alam yang sangat parah.

Luas Negara yang sudah secuil lalu rusak pula jelas  kiamat paling mengerikan yang harus mereka tanggung akibatnya. Ini semacam hukuman akibat kerakusan dan ketamakan mereka dalam mengekplorasi alam hanya demi hidup nyaman tanpa berpikir dampak jangka panjangnya.

Organisasi pecinta lingkungan semacam Greenpeace mencatat, akibat pertambangan yang membabi buta itu, 90% wilayah Nauru kini tak layak huni alias waste-land. Wilayah ini memerlukan rehabilitasi secara besar-besaran.

Saat ini di Nauru sudah sangat sulit sekali ditemukan kawasan hutan hijau, semuanya hancur lebur menjadi gersang nan tandus. Pohon-pohon kelapa yang dulunya tumbuh subur di pinggir pantai dan elok dipandang kini taka da lagi karena semua telah roboh. Jika dilihat dari udara, keadaan alam Nauru benar-benar mengerikan.

Mantan menteri Nauru, James Aigimea bahkan berharap fosfat tidak ditemukan lagi di Nauru hingga ia tidak perlu menyaksikan kengerian seperti dalam film-film ekplorasi ke planet asing.

Anehnya Nauru menuntut Inggris, Australia dan Selandia Baru untuk membayar ganti rugi atas kerusakan ekologinya, sebab perusahaan-perusahaan tambang yang beroperasi di Nauru berasal dari negara-negara tersebut.

Australia salah satu negara yang mau dan setuju membayar ganti rugi. Mereka menggelontorkan uang 2,5 juta dolar Australia pertahun selama 20 tahun. Tapi itu tak bisa mengubah kembali wajah Nauru ke alami seperti dulu.

Inggris dan Selandia Baru, masing-masing membayar 12 juta dolar. Namun kompensasi ini sungguh tak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan. Tercatat, selain merusak 90% wilayah Nauru, pertambangan juga menghancurkan 40% kehidupan laut di Zona Ekonomi Ekslusif (Exclusive Economic Zone). Vegetasi hijau dan habitat mamalia musnah. Jenis-jenis hewan di Nauru sangat sedikit, bisa dihitung dengan jari.

Akibat kerusakan lingkungan ini pula, lahan yang ada tak bisa ditanami dan cadangan air menghilang. Bayangkan pemerintah Nauru selanjutnya terpaksa mengimpor seluruh bahan makanan dan minuman dari Australia. Sungguh mengkhawatirkan kondisi negara kecil Nauru sekarang ini. Wilayah yang dulunya makmur dan subur itu kini berubah panas gersang bak neraka. Tak ada lagi kehijauan, hanya debu yang menutup pandangan.

Jumlah Obesitas tertinggi sejagad

Coba bayangkan, ketika orang sudah merasa kaya raya, semua kebutuhan hidup bisa didapat dengan mudah maka alur berpikir jernih pun cenderung menjadi orang rakus dan tamak. Hal ini terjadi pada semua rakyat Nauru yang sebelumnya dimanja hidup serba enak.

Hampir semua warganya setiap hari hanya makan tak terkontrol, minum alkohol, dan merokok sehingga menyebabkan sebagian besar penduduk Nauru saat ini terjangkit penyakit obesitas yang sangat mengkhawatirkan bahkan Nauru dijuluki sebagai negara dengan tingkat obesitas tertinggi di dunia, ironis memang.

Hal ini bisa ditemui hamper disemua pojok Nauru, rakyatnya gemuk-gemuk obesitas semua. Sehingga tak salah untuk bekerja dan berpikir saja mereka kepayahan, apalagi saat Nauru jatuh menjadi Negara termiskin didunia, seakan kondisi itu bagai mimpi disiang bolong bagi rakyatnya.

Mereka jadi panik. Mau bekerja saja malas sementara hidup semakin terjepit. Untuk bertahan hidup jadi susah. Betul-betul nasibnya ibarat roda pedati. Dari kaya mendadak jatuh miskin dan bahkan lebih tragis. Mereka hamper tak percaya kenyataan yang mereka hadapi. Ibarat dongeng katanya.

Negara Tukang Hutang

Seakan tiada habisnya kemalangan yang menimpa Nauru. Sudah alam hancur lebur, sumber daya hilang, Negara jatuh miskin, pemerintahan pun kolaps bila tanpa adannya subsidi dari bantuan negara lain, membuat Nauru benar-benar menderita.

Hutang Nauru kepada Negara tetangga semakin menumpuk segunung. Tercatat sudah mencapai 240 juta dollar, lebih besar dari APBN mereka sendiri.

Nauru terpaksa melego propertinya untuk menutupi hutang seperti gedung pencakar langit Nauru House, Sydney’s Mercure Hotel and Royal Randwick Shopping Center, hotel-hotel Downtowner and Savoy Park Plaza di Melbourne.

Meski demikian, hutang tetap belum lunas, masih tersisa 33 juta dollar lagi. Akibatnya Nauru jatuh dalam kubangan kemiskinan akut. Kehidupan rakyat disini Ibarat dalam lingkaran setan. Membayar sewa gedung saja mereka kini tak mampu, apalagi buat makan sehari-hari.

Lapangan terbang mereka pun kini ditutup karena tak punya dana operasi. Ditengah kepanikan, pemerintah Nauru mengambil langkah pragmatis, mereka menawarkan Nauru kepada Australia untuk menjadi tempat pengungsian manusia-manusia perahu dengan imbalan 20 juta dolar. Namun, karena masyarakat Nauru terbiasa hidup manja dan malas akibat kemakmuran, mereka tidak tahu bagaimana cara mengurus para pengungsi ini, akibatnya para pengungsi hidup terlantar seperti mereka, kondisinya bukan berubah setelah mendarat di Nauru, malah keblingsatan. Jika Australia tidak memberi pinjaman maka bisa dipastikan negara ini akan hancur dalam waktu dekat. Mungkin punah.

Lantas hikmah apa yang bisa kita dapatkan dari nasib Nauru ini? Tentu kita harus lebih bijak dan ramah kepada alam, serta tidak memperturutkan hawa nafsu dalam mengelola kekayaan.

Kekayaan hendaknya dikelola dengan bijak dan selalu mengedepankan rasa syukur dan tak kufur nikmat. [Halim El Bambi/Milah Yabmob/DBS/]

You might like

Halim El Bambi

About the Author: Halim El Bambi

Founder LOOKAGE.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!