Bunggoeng Seurunee, Bunga Ajaib Pengusir Hama dan Potensi Wisata Segar Persawahan Masa Depan

Awalnya tidak ada yang menyangka kalau bunga berwarna dominan kuning indah ini tumbuh serampangan di perkampungan atau desa-desa pedalaman di Aceh.

Pada era 1980-1990, bunga ini begitu mudah dijumpai dipekarangan rumah warga Aceh. Namun paska konflik dan tsunami, tanaman yang disebut orang Aceh ‘bunggoeng seurune’ ini sudah mulai sulit ditemukan akibat serbuan bunga-bunga varian baru yang viral dan banyak ditanami kaum wanita milenial.

Orang-orang tua zaman dulu paling senang menanam bunga ini sebagai obat sakit perut atau kembung. Caranya oen seurunee dipetik dan ditumbuk lalu dicampur tumbukan bawang untuk selanjutnya dioles ke bagian perut. Insya Allah sakit perut kembung atau mual hilang seketika.

Dibeberapa tempat, bunga ini disebut ‘tagetes’, kenikir, bahkan ada juga yang menyebutnya tahi kotok atau bunga tahi ayam karena baunya yang cukup menyengat.

Bunga Seurunee atau tagetes masuk keluarga ‘compositae’ (Asteraceae). Mereka memiliki 59 species yang warna bunganya bisa berbeda-beda. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman herba hias yang biasa digunakan untuk tanaman pagar dan pembatas bahkan ada yang dimanfaatkan secara komersial sebagai bunga potong.

Yang Hebatnya lagi, seurunee bisa menjadi tanaman pengendali hama. Tumbuhan ini masuk kelas refugia yaitu tanaman yang bisa dibudidayakan diantara tanaman lain sebagai pengusir hama predator. Beberapa hama tidak suka aroma yang dipancarkan bunga ini sehingga lebih memilih menjauhi tanaman ini.

Petani-petani di Belitang, Oku Timur sudah mulai menanami refugia ini dipinggiran sawah untuk mengusir hama tanaman padi alami.

Tagetes atau seurunee sangat bermanfaat ditanamani diarea persawahan atau ‘ateung’ sebagai penangkal serangga, anti bakteri dan anti jamur karena kandungan bioaktifnya seperti terpenoid, karotenoid, tegetiin, terthienyl, helenian, serta flavoxanthin mampu membuat hama lari ngibrit. Bioaktif ini bisa meracuni kutu daun (Aphis craccivora) dan ulat daun (Plutella xylostella).

Sangat berguna bukan mamfaatnya? Daripada memakai pestisida kimia, petani akan lebih baik menanam tanaman ini sebagai ‘pestisida alami’. Selain bisa mengusir hama juga membuat pemandangan indah menawan, enak dipandang mata. Pada akhirnya sawah pun menjadi destinasi wisata alternatif yang menyegarkan mata dan udara. | Halim El Bambi |

You might like

Halim El Bambi

About the Author: Halim El Bambi

Founder LOOKAGE.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!