Perjuangan Fauna & Flora Internasional Selamatkan Kayu Meudang Jeumpa

Pernahkah Anda melihat ‘rumoh Aceh’? Ya, ‘rumoh Aceh’ adalah rumah tradisional khas yang bisa dijumpai di Daerah Aceh. Rumah Aceh sangat kental dengan ‘langgam Islam’ karena dipengaruhi asimilasi Islam yang datang dari Arab, India dan Melayu. Akibat akulturasi budaya ini, membuat adat istiadat dan budaya Aceh semakin beragam dan kaya. Rumoh Aceh, seperti rumah-rumah tradisional lainya yang ada di Nusantara terkenal sampai ke dunia internasional.

Pilar-pilar ‘ dan sudut ruangan rumoh Aceh’ pun memiliki makna religi tertentu. Namun sayangnya keberadaan ‘rumoh Aceh’ semakin langka tergerus modernisme. Warga lebih memilih membangun rumah beton atau permanen. Rumoh Aceh pun semakin langka keberadaannya. Di pelosok gampong-gampong (desa), rumoh Aceh memang masih ditemui keberadaannya, tetapi kebanyakan kondisinya sudah lapuk di makan zaman, tak terurus atau dibiarkan tanpa dilestarikan. Dibeberapa gampong, bangunan fisik rumoh Aceh sudah dikombinasi dengan beton semi permanen sehingga ‘trah’ rumoh Aceh pun mulai terkikis keasliannya.

Tahukan Anda bila pilar-pilar yang menyangga rumoh Aceh sebanyak 24 pilar itu kebanyakan memakai bahan baku dari pohon ‘Meudang Jeumpa’? Meskipun saat ini bahan kayu itu sudah mulai dikombinasi dengan pohon keras lainya, tetap saja pohon meudang jeumpa wajib ada dalam spirit keAcehan. Mungkin pemuda-pemuda milenial saat ini pun masih awam akan keberadaan meudang jeumpa. Padahal, hampir kebanyakan pilar rumoh Aceh itu memakai pohon keras ‘meudang Jeumpa’.

Bisa Anda bayangkan, sejak kemunculan rumoh Aceh dari pra era Kesultanan Aceh, sudah jutaan kubik pohon meudang  Jeumpa dibabat sebagai bahan baku pembuatan rumoh Aceh. Pertanyaan selanjutnya adalah; mengapa harus ‘meudang Jeumpa’ yang menjadi korban? Jawabannya tentu saja karena pohon endemik ini menjadi icon atau ‘pohon negara/bak nanggroe’ yang menjadi ciri khas Aceh itu sendiri. Bunga meudang jeumpa (bungoeng Jeumpa) malah dijadikan lagu daerah Aceh. Lagu ‘bungoeng jumpa’ wajib diputar apabila ada acara-acara keagamaan atau adat, khanduri, peusijuek atau bahkan acara pesta pernikahan orang Aceh. Lagu ‘Bungoeng Jeumpa’ pun sudah mendunia.

Ternyata, keberadaan pohon meudang jeumpa memang sangat krusial bagi Aceh. Selain kayu wajib untuk ‘rumoh Aceh’, beberapa bagian penting pohon ini seperti bunganya pun menjadi simbol sakral bagi warga Aceh. Bunganya juga dipakai sebagai riasan pengantin karena aromanya yang wangi semerbak. Inilah pohon ‘nanggroe Aceh’ yang keberadaannya saat ini semakin langka dan mungkin hampir punah.

Profil pohon ‘meudang jeumpa’

Meudang jeumpa adalah salah satu tanaman identitas Indonesia. Bunga ini merupakan flora endemik dibeberapa daerah di nusantara. Persebarannya antara lain Sumatera, Kalimantan (Borneo), Sulawesi, sebagian Papua. Nama ilmiah meudang jeumpa adalah ‘magnolia montana’. Tumbuhan ini termasuk dalam suku magnoliaceae dan keluarga Elmerrillia. Nama tumbuhan ini memiliki beberapa sinonim yaitu Elmerrillia ovalis, Elmerrillia vrieseana, Magnolia ovalis, Talauma ovalis dan Talauma vrieseana.

Meudang jeumpa atau cempaka hutan kasar adalah tumbuhan yang berjenis tanaman berkayu. Tinggi tumbuhan ini bisa mencapai 45 meter dengan diameter pangkal batang dapat mencapai 2 meter. Secara fisik, kayu ini memiliki bentuk lurus dengan cabang-cabangnya juga dominasi lurus kokoh. Warna batangnya coklat muda serta pada bagian tertentu ada kulit pohon yang mengelupas. Batang tumbuhan ini berbentuk silinder. karena kondisi fisiknya ini, pohon meudang jeumpa sulit di panjat, lebih-lebih bila musim hujan tiba. Sangat alot dan licin.

Meudang Jeumpa memiliki daun berjenis tunggal, karena setiap tangkai daunnya hanya menyokong satu buah daun saja. Bagian daun dari pohon mahal ini terdiri dari helaian daun dan tangkai daun. Tangkai daunnya hanya pendek saja dibagian pangkal daun. Daun jenis meudang jeumpa berbentuk lonjong. Bagian permukaan bawah daun meudang jeumpa terdapat bulu-bulu halus merata. Tulang daun meudang jeumpa memiliki struktur menyirip. Bagian pangkal daun tumbuhan ini tidak bertoreh.

Bunga meudang jeumpa terdiri dari tangkai bunga, mahkota bunga, dan alat perkembangbiakan. Warna mahkota bunga kuning atau putih dengan jumlah kelopak bunya sebagaian besar ganjil. Meudang jeumpa memiliki buah dengan bentuk lonjong seperti buah langsat hutan dan terdapat biji-biji berwarna pink bila buahnya sudah tua. Tumbuhan ini berkembangbiak secara generatif menggunakan biji.

Bak meudang jeumpa biasa hidup di tanah dengan ketinggian 1000 m dpl. Tumbuhan ini hidup di hutan tropis. Daerah tempat hidupnya merupakan dataran dengan cukup persediaan air. Pohon ini masih berkerabat dekat dengan cempaka kuning. Dibeberapa wilayah luar Aceh, keberadaan pohon ini belum masuk langka karena masih banyak ditemui di hutan-hutan. Tanaman ini masih tersedia cukup banyak di Sulawesi dan Maluku.

Manfaat

Pohon meudang jeumpa sering dimanfaatkan batang dan kayunya sebagai bahan bangunan. Dalam dunia furnitur, kayu meudang jeumpa terkenal mahal karena memiliki kualitas bagus. Kayu pohon ini sangat awet dan cukup bagus untuk bahan ukiran. Karena itu, dibanyak material ‘rumoh Aceh’ kayu meudang jeumpa hampir mendominasi. Rumoh Aceh pun konon bisa awet selama lebih 200 tahun lebih bila memakai kayu meudang jeumpa. Orang Toraja sering memanfaatkan pohon ini untuk bahan baku ukiran Toraja. Orang Aceh memamfaatkanya untuk tiang-tiang ‘rumoh Aceh’.

Di Jawa, meudang jeumpa lebih dikenal dengan sebutan Cempaka putih dan kuning. Karena pohon ini memang ada dua macam, ibarat kakak -beradik. Baik Cempaka putih dan kuning, keduanya dibudidayakan untuk diambil bunganya. Biasanya, Cempaka putih dimamfaatkan untuk campuran sesajian atau wewangian lain. Wewangian itu dihasilkan dari ekstrak minyak asiri bunga, daun, dan kayu Cempaka. Kulit kayunya bermanfaat untuk obat demam.

Sedangkan Cempaka kuning lebih dikenal sebagai kantil. Hampir semua bagian tumbuhannya berguna, yaitu akar, batang, kulit kayu, daun, bunga, buah, dan bijinya. Kulit kayunya terasa pahit dan berkhasiat untuk obat kuat, febrifugum, dan tonikum. Untuk kulit akarnya, bisa digunakan bagi perbaikan menstruasi, bersifat abortivum untuk mempercepat keluarnya ari-ari atau plasenta saat ibu melahirkan. Daunnya, bila direbus dan ditambah madu, bisa digunakan untuk obat cacing, reumatik, tenggorokan, obat kumur, dan buang angin. Bila napas berbau (halitosis), rebusan daunnya juga bisa digunakan. Bunga kantil sangat harum. Di samping sebagai penghias rambut, Cempaka kuning ini bermanfaat untuk minyak wangi atau aromatikum, kosmetik, dan upacara keagamaan.

Upaya Fauna & Flora Internasional menyelamatkan hutan dengan membibitkan meudang jeumpa

Fauna & Flora Internasional, sebuah lembaga dunia yang khusus bergerak dibidang flora dan fauna cabang Aceh terus bergerak melakukan berbagai upaya penyelamatan hewan dan lingkungan hidup di Aceh.

Uniknya, dalam upaya menyelamatkan ekosistem hutan endemik di Aceh, FFI menggelar acara pelatihan pembibitan stek meudang Jeumpa. Mengapa harus membibitkan pohon  ‘meudang jeumpa’? Arief, salah seorang field coordinator acara FFI di Kecamatan Mane, Pidie menyebut bahwa pihaknya menilai beberapa hewan khas Sumatera yang sudah sulit ditemukan di Aceh seperti rangkong (Bucerotidae) atau enggang pohon yang kerap memakan biji buah pohon meudang jeumpa menjadi indikator kalau keberadaan pohon khas Aceh sudah mulai sulit ditemukan di hutan.

“Karenanya, kami menilai pohon meudang jeumpa yang menjadi sumber hidup rangkong perlu segera dilestarikan dengan cara membudidaya bibit ini secara massal.” terang Arief kepada Halim El Bambi, dari LOOKAge.id

Demi mewujudkan misi penyelamatan pohon meudang jeumpa, yang juga sama artinya menyelamatkan ekosistem hutan endemik Aceh, Pihak FFI, sejak 29 – 30 Juli menggelar acara pelatihan  pembibitan stek pucuk meudang jeumpa secara terfokus.

FFI mengundang beberapa perwakilan masyarakat dalam kecamatan Mane, Pidie sebagai peserta. Sementara fasilitator atau tenaga ahli selama training, FFI turut mengundang langsung pelaku pembibitan pohon. Diantaranya  adalah Muhammad Awi, S.Hut dari Balai pembibitan Flora Nursery Gampong Pukat, Pidie. Ada juga dari pihak KPHA yaitu Bapak Hamdani, S.Hut dan bapak Husaini selaku tenaga profesional independen khusus untuk stek.
Muhammad Awi sedang menjelaskan kepada peserta mengenai cara membibit

Selama pelatihan yang dipandu Mahlizar dari FFI Pidie, para peserta begitu antusias menyimak para fasilitator memaparkan ilmu pembibitan. Muhammad Awi, CEO Flora Nursery dalam keterangannya menyebut bahwa untuk membibitkan pohon meudang jeumpa tidak sama perlakuannya dengan bibit pohon lain. Bibit meudang jeumpa, katanya mesti diperlakukan khusus atau sebaliknya bisa gagal total. Apalagi bibit pohon khas Aceh ini, katanya sangat sulit ditemukan dipasaran akibat keberadaannya yang semakin langka.

Mula-mula, yang harus dilakukan untuk pembibitan meudang jeumpa adalah dengan melakukan sortir biji. Menurut Muhammad, sering masyarakat salah dalam memperlakukan bibit meudang jeumpa baik selama persemaian maupun masa tunas sehingga bibit pohon ini banyak gagal diperbanyak.

“Biji meudang jeumpa yang sudah layak dibibitkan tandanya sudah memerah. Bibit ini mesti diambil langsung ke pohon agar tidak keburu dibawa oleh burung. Bila terlambat diambil maka bibit akan musnah oleh hewan-hewan burung yang menyukai memakan bibit meudang jeumpa. Pohon ini memiliki kesulitan tersendiri untuk dibibit bila salah memperlakukannya. ” terang ahli pembibitan ini pula.

Training FFI ini dibagi dua sesi pembahasan. Hari pertama lebih pada teori, sedangkan hari keduanya para peserta ditempa dengan langsung melakukan praktek lapangan. Saat terjun ke lapangan, peserta lagi-lagi dibagi dua kelompok. Kelompok pertama ditugaskan melakukan pemetikan bibit meudang jeumpa untuk sesi bibit buah. Sedangkan kelompok kedua ditugaskan memetik dahan pucuk meudang jeumpa untuk sesi praktek langsung stek batang dan okulasi.

Untuk pelatihan pembibitan biji dan stek, Muhammad Awi selaku ahli pembibitan langsung turun tangan menangani peserta. Ia dengan cekatan dan tanpa merasa lelah terus sabar menempa peserta mempraktekkan bagaimana melakukan pembibitan mulai dari sortir biji, menabur sampai membuat bubung petakan bibit. Ia juga menjelaskan bagaimana penanganan hama sampai proses penyiraman secara berkala apabila bibit sudah mulai muncul tunas.

“Dalam dunia pembibitan, bubung memiliki peranan sangat penting untuk menjaga suhu dan kelembaban bibit. Perlu dilihat juga media tanam bibit, pupuk, ph tanah, sistem penyiraman dan hama. Ini penting sekali untuk kesuksesan membibit.” jelas pionir pengentas pengangguran dari Pidie ini.

Sementara itu, Husaini, ahli stek dari Gampong Aree, Pidie ini juga ikut memberikan warisan ilmu sambung-menyambung dahan pohon itu kepada masyarakat. Seperti Hamdani dari KPHA yang memberikan pengetahuan tentang dunia perhutanan, Husaini juga menurunkan ilmunya dalam bidang stek pohon yang disambut antusias para peserta. 

Menurut Husaini, melakukan penyambungan pohon adalah cara lain untuk memperbanyak bibit pohon selain menumbuhkan bibit. “Stek adalah alternatif science bila bibit biji gagal. Stek sesungguhnya sangat praktis dan sederhana tetapi tingkat keberhasilannya juga tidak bisa dibilang semua sukses. sama seperti biji juga. Dunia stek adalah cara dalam dunia rekayasa tetumbuhan.” kata Husaini yang dalam komunitas perhutanan di Pidie sudah dianggap seorang master stek autodidak yang sudah cukup banyak menghasilkan rekayasa bibit dihalaman rumahnya yanga asri di Gampong Aree, Kecamatan Pidie.

Pada akhirnya, FFI tidak akan pernah berhenti menyelamatkan lingkungan. Mereka akan terus melakukan berbagai upaya menjaga ekosistem dunia. Sulaiman, SE, mukim Lutueng, Mane, Pidie bahkan dengan sukarela ikut mendampingi dan mensukseskan berbagai agenda penyelamatan lingkungan yang digagas FFI. Ia turut memberi kontribusi dan menjadi bagian dari FFI. Pemerintah Aceh patut mengapresiasi FFI atas upayanya menyelamatkan pohon endemik Aceh; meudang jeumpa yang juga sama halnya menyelamatkan ekosistem hutan Aceh dari kepunahan. Semoga saja inisiatif dan upaya FFI ditiru para stake-holder lingkungan dan kehutanan lainya. | Halim El Bambi | LOOKAGE.ID

Nantikan foto-foto galellery acara ini hanya di lookage.id

You might like

Halim El Bambi

About the Author: Halim El Bambi

Founder LOOKAGE.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!