Warga Hamil Diluar Nikah Diharamkan Melahirkan di Kemukiman Lutueng, Kecamatan Mane

Setiap daerah pasti memiliki aturan adat istiadat dan adat sosial yang ketat. Dalam sejarahnya, aturan yang muncul dari semangat lokalitas yang berbuah local-wisdom itu kebanyakan bermamfaat bagi kelangsungan hidup manusianya dan juga alam. Di Indonesia dimana masyarakat ditiap-tiap daerahnya masih berpegang teguh pada aturan adat secara turun temurun, tak terkecuali di Kemukiman Lutueng, Kecamatan Mane, Pidie. 

Menurut Mukim Lutueng, Sulaiman SE, pihaknya punya aturan-aturan ketat yang ternyata telah di qanunkan sejak 2012.  Salah satu aturan dalam bab adat kehidupan masyarakat Lutueng adalah apabila ada wanita yang kedapatan hamil diluar nikah dari hasil berkhalwat maka wanita itu akan diberi sanksi adat sosial berupa ‘diungsikan’ ke gampong lain diluar Lutueng, itupun bila kampung-kampung itu mau menerimanya. Bila tak diterima juga, maka wanita itu akan diserahkan ke dinas sosial sampai ia melahirkan dan diperbolehkan pulang setelahnya (Qanun Lutueng, Pasal 42, bab Adat Sosial).

Menurut keterangan Mukim Lutueng,  sejak qanun itu diterbitkan 2012 sampai dirinya menjabat hampir dua periode dipercaya masyarakat sebagai Mukim Lutueng secara beruntun, pihaknya sudah pernah ‘mengungsikan’ dua wanita yang hamil diluar nikah dalam kawasan hukum Lutueng. Pelaku pelanggar adat sosial itu terjadi dikurun 2014 dan 2015, setelah itu Kemukiman Lutueng aman dari pelanggaran syariat Islam dan adat sosial. 

Masyarakat di Lutueng sangat teguh mematuhi aturan adat yang tertuang dalam qanun yang telah mereka buat bersama-sama dengan perangkat gampong mulai dari Mukim, Imum Mukim, Tuha Peut, Geuchik, kepala dusun, ketua pemuda,  keujruen blang, petua seuneuboek sampai perangkat pawang glee (pawang hutan) ikut berkontribusi. 

Ekosistem Eungkot Kerling mulai eksis

Sementara diwaktu bersamaan, Sulaiman, SE selaku Mukim Lutueng juga menginformasikan kepada Halim El Bambi dari lookage.id bila saat ini jumlah eungkot kerling (ikan hampala), ikan endemik di sungai Tangse, Mane, Geumpang dan hidup juga di sungai-sungai alam Barsela, keberadaannya semakin sehat dan jumlahnya mulai banyak.

“Kalau dulu tahun 2012 kebawah, eksistensi eungkot kerling masuk dalam grade mengkhawatirkan, bahkan terancam punah. Kini alhamdulillah karena aturan-aturan adat yang dipatuhi masyarakat, jumlah ikan enak ini tidak lagi kritis, artinya keberadaan ikan ini sudah  merata hampir disemua sungai sudah mudah didapat.” terang pria yang penuh humor ini.
Eungkoet kerling (hampala) tangkapan warga | Foto HELB | LOOKAGE.ID 

Pihaknya juga menghimbau kepada masyarakat agar bersikap ramah lingkungan apabila mau menangkap ikan kerling karena apabila melanggar hukum adat, maka sanhksinya juga berat. Ujar Sulaiman merujuk qanun yang telah mereka perjuangkan demi menjaga eksosistem alam.

Dalam hukum Mukim Lutueng, masyarakat dilarang merusak ekosistem ikan alam dengan cara mengebom ikan, meracun, mengontak dan tindakan brutal lainya.

“Sanksi jelas, kita langsung menangkap pelakunya. Tidak amsalah bila di pancing dan di jala saja karena itu tak merusak alam sungai dan mengurangi populasi ikan. Marilah kita jaga lingkungan. Dengan lingkungan kita jaga bersama, maka alam juga akan memberikan penghidupan kepada manusia.” himbau Sulaiman sambil menambahkan kalau di wilayahnya sangat cocok dikembangkan wisata arung jeuram dan budidaya ‘kupi panah’ atau kopi robusta khas daerah setempat. | Halim El Bambi | LOOKAGE.ID  

 

You might like

Halim El Bambi

About the Author: Halim El Bambi

Founder LOOKAGE.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!