Irwandi Yusuf; Senarai Penjilat dan Para Pengkhianat

Ada tiga novel dahsyat dengan cerita-cerita spektakuler yang baru saja saya baca. Tentu saya baca dengan memakan waktu berhari-hari mengingat kesibukan yang padat dilapangan dalam rangka pembangunan rumah dhuafa secara swadaya, pada masa awal-awal tulisan ini mulai saya kalamkan.

Novel-novel itu tersaji dengan alur cerita memukau dan mendebarkan. Seakan-akan para pembaca dibawa sang penulisnya dalam spektrum alam yang menghanyutkan pada 1823, saat perburuan kulit dan bulu hewan marak di Amerika Serikat. Disana ada kisah yang menceritakan senarai para pemburu, balas dendam, pembunuhan dan bertahan hidup (survive) dari cuaca ekstrim mematikan.

Namun yang paling membetot perhatian saya dalam buku bacaan menjelang tidur ini adalah sepenggal kisah kelam tentang pengkhianatan yang tergambar jelas dalam novel ‘The Revenant’, karya otentik penulis muda Michael Punke, sampai-sampai karya apik lulusan George Washington University itu diangkat ke film layar lebar dengan judul yang sama oleh sutradara kelahiran Mexico, Alejandro G. Iñárritu.

Iñárritu memang sedang beruntung. Film yang mengisahkan tentang perburuan dialam liar hingga dibumbui pengkhianatan dan cara bertahan hidup ekstrim dialam liar telah mengantarkan pemeran utama film ini, Leonardo DiCaprio menggenggam piala Oscar, tak terkecuali Irranitu sendiri.

Kisah-kisah pengkhianatan oleh teman sendiri memang bukan sekedar dongeng sebelum tidur. Hugh Glass (yang diperankan cukup apik oleh Leonardo DiCaprio) adalah sosok pemburu tangguh. Ia lihai membunuh beruang grizzly yang terkenal ganas. Mangsa grizzly jarang lepas dari genggaman dan segera berakhir tragis; tercabik-cabik mengerikan.

Suatu ketika, kelompok Hugh Glass terpaksa lari tunggang-langgang dari kejaran suku Indian Arikara yang marah kepada pendatang kulit merah. Tanpa ampun cowboy-cowboy liar itu ditembaki dengan busur dan senapan. Lusinan cowboy kelompok Hugh Glass tewas meregang nyawa. Ada yang tembus oleh panah dan ada juga yang pecah otaknya oleh bedil senapan Suku Arikara. Namun dari pihak Arikara juga tak sedikit yang tewas dari baku tembak. Sialnya jumlah suku Arikara terlalu banyak sehingga gerombolan pemburu kulit pimpinan Hugh Glass tersudut. Mereka akhirnya melarikan diri melalui sungai. Dihalau Arikara hingga ke jantung hutan rimba Missisippi yang tak berujung.

Kelompok Hugh Glass terpaksa harus bertahan hidup di hutan yang cukup ekstrim. Salah langkah sedikit saja, suku Arikara yang beringas siap mengupas kulit kepala mereka hidup-hidup dan meminum darah. Sementara itu persediaan stok makanan rombongan Hugh Glass semakin menipis. Cuaca dingin terus menyiksa tanpa kenal ampun. Mereka lelah, stres sambil menahan perut yang lapar melilit. Mmakan apa saja untuk bertahan hidup adalah pilihan terakhir. Hewan-hewan yang bisa dimakan cukup sulit didapat dan mereka terpaksa memakan bangkai rusa kutub atau bison yang sudah membeku untuk menganjal perut. Bersaing dengan gerombolan serigala, mereka saling berebut mendapatkan bangkai hewan. Buah-buahan liar dan rumput kering tak luput mereka jadikan menu, situasinya cukup genting.

Hugh Glass gundah. Ia harus mencari sumber makanan alternatif lain untuk pengikutnya yang sudah kelaparan akut. Ia mencoba berburu moose, sejenis kijang besar khas kutub utara. Namun saat ia mengendap, yang muncul malah beruang grizzly raksasa. Ia langsung disergap dan diserang. Ia dicakar, dicabik. Jeritanya menghentak rekanya diatas bukit. Glass Setengah sekarat. Beruang itu tak langsung membabi-buta mencabik tubuhnya. Nasibnya sedikit beruntung karena beruang itu ternyata sedang sibuk juga menjaga anak-anaknya agar tak terpisah. Kondisi itu dimamfaatkan dengan baik Glass. Ia mencoba bertahan dari sisa-sisa kekuatanya. Glass kehabisan darah setelah cakar dan gigi beruang mencabik-cabik punggung dan lehernya hingga mengangga.

Rupanya beruang tadi kembali lagi menghampiri Hugh Glass. Moment ini menggambarkan kesempatan hidup atau mati bagi duda yang ditinggal istrinya dari suku Pawnee. Ia paham, grizzly merupakan hewan buas yang tak kenal ampun saat menjalani ritual membunuh. Saat beruang yang sedang marah itu menerkam kedua kali, Hugh Glass dengan kepayahan mengokang senjata. Sebuah tembakan dari senjata laras panjang miliknya menghantam kepala beruang. Namun tembakan yang mengenai otak beruang tak serta merta langsung menewaskan si beruang. Ia masih saja mencabik-cabik Hugh Glass yang sekarat. Sebuah pisau lalu dihantamkan ke wajah beruang hingga limbung. Keduanya terhampas bersamaan ke sebuah jurang sedang. Glass tak sadarkan diri, sementara beruang sudah tewas ditanganya, persis menindih tubuhnya yang hampir mati.

Dari sinilah cerita semakin seru. saat kelompok Hugh Glass (1783 – 1833), termasuk anak semata wayangnya, menemukan ayahnya itu sudah tercabik-cabik diatas bangkai beruang. Mereka cepat-cepat menolong Glass. Mengobatinya dengan dedaunan hutan.

Waktu terus berjalan. Situasi semakin genting. Seorang teman mereka, Fitzgerald, pria culas yang berprilaku agresif (diperankan apik Tom Hardy) rupanya tak senang Glass cedera dan menganggapnya menjadi beban. Ia berupaya menyingkirkan Glass dari kelompok perburuan. Alasanya sangat tidak manusiawi; karena sakit. Mereka sungkan menjaga dan mengobati Glass agar pulih.

Salah seorang pengikut Glass yang setia bahkan dibunuh Fitzgerald karena iba dan membela Glass. Pada situasi selanjutnya, Fitzgerald semakin gerah kepada Glass. Ia mengubur hidup-hidup Glass dalam sebuah liang yang ia cangkul. Aksi kejam Fitzgerald sempat dihalau anak Glass, namun gagal. Dalam kondisi marah itu, Fitzgerald langsung menusuk dan membunuh anak Glass. Dari balik urukan tanah yang tak sempurna, Glass menyaksikan sendiri bagaimana darah dagingnya meregang nyawa ditangan Fitzgerald yang kalap. Padahal anaknya itu satu-satunya manusia dalam rombongan yang setia mengobatinya dan menemaninya dalam keadaan sekarat.

Glass murka tak terkira. Dalam keadaan menahan sakit ia berupaya bangkit dari kubur. Luka bekas cakar beruang semakin parah dan bahkan membusuk mengeluarkan belatung. Kakinya bekas terjatuh ke jurang patah hingga ia tak bisa bergerak. Ia melata keluar dari lubang dengan tangan dan berupaya mencari Fitzgerald untuk membunuhnya.

Dalam kondisi sengsara, Glass dikhianati temannya sendiri. Ia dikubur hidup-hidup dengan harapan cepat mati dan para pengkhianat itu bisa bebas bergerak mencari buruannya.

Ternyata, soal mati memang rahasia tuhan. Meski nyawanya hampir tercerabut dicabik beruang, dicekik dan dikubur temannya. Ia bangkit lagi dari kuburan yang diuruk para pengkhianat. dari sinilah cerita pembalasan dendam Hugh Glass mulai menarik. Ia harus bertahan hidup dengan kondisi tubuh tak bisa berjalan dan luka yang terus membusuk. Ia hampir memakan mayat temannnya yang terbunuh untuk bertahan hidup. Bangkai bekas mangsa serigala ia makan untuk mendapat asupan energi.

Ia mengelana dialam liar yang ekstrim sampai berbulan-bulan lamanya dengan kondisi yangs sangat memprihatinkan itu. Mencari Fitzgerald adalah misi utamanya. Glass sempat tidur didalam perut kuda yang baru mati untuk mencari hangat dari bekunya alam liar.  Ia mengumpulkan kekuatan fisiknya untuk melakukan pembalasan kepada sang pengkhianat; Fitzgerald !

Cerita selanjutnya bisa ditonton dengan apik di The Revenant the movie. Glass pada akhirnya berhasil menemukan sang pengkhianat, Fitzgerald, setelah memburunya berbulan. Mereka saling berhadapan. Aksi bacok membacok tak terhindarkan setelah sebelumnya mereka saling tembak menembak hingga Fitzgerald terluka. Glass mengajaknya berkelahi face-to-face. Glass keluar sebagai pemenang dalam duel mengerikan itu. Ia berhasil membacok dan menusuk Fitzgerald serta membuangnya ke sungai seperti bangkai. Glass lega telah membalas kematian anaknya. 

Kisah-kisah hebat lainya juga tersaji didua novel lainya. Sebut saja ‘Lord Grizzly’ karya Frederick Manfred dan ‘Cowboy, Mountain Man and Grizzly Bear’ besutan M P Mayo yang mendebarkan.

Dalam film drama dan adventure yang diangkat dari kisah nyata yang tertuang dalam novel dengan judul yang sama ini, ‘The Revenant’ menjadi perbincangan hangat dikalangan kritikus film. Sosok sentral ‘The Revenant’ jelas Dicaprio, aktor langganan Oscar ini selalu memiliki ‘ruh’ saat memerankan segala genre film. Tak jarang sutradara-sutradara kawakan paling sering mengajaknya bekerjasama dalam proyek-proyek film berbiaya fantastis. Tapi hasil akhirnya di puncak box-office, pasti pulang modal. 

Alejandro González Iñárritu padahal baru kali ini menangani aktor sekelas Dicaprio dan ia langsung menuai sukses besar ketika The Revenant masuk masuk tangga box-office. Pundi-pundi uang pun menghampirinya. Saya secara pribadi paling menyukai akting Dicaprio di ‘Django Unchained (2013)’ arahan Quentine Tarantino yang legendaris untuk film-film genre kekerasan brutal atau slasher.

Namun inti dari The Revenant’ yang dramatis ini, sekonyong-konyong saya teringat akan nasib naas yang menimpa gubernur Aceh terpilih, Irwandi Yusuf. Kisah perjalanan hidupnya hampir sama persis nasib Hugh Glass. Punke bertutur tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang dekat Hugh Glass. Ada oknum-oknum penjilat, para bromocorah diseputaran kekuasaan dan pemerintahan Irwandi Yusuf juga tak kalah hebatnya mengkhianati ‘The Captain’ hingga ia beberapa kali dirundung masalah. Fitnah-fitmah ‘a nasionalis’ ditebar supaya Irwandi terciduk, ini sebagai trigger, atau pintu masuk. Puncaknya ia pun ditahan lembaga anti rasuah RI dengan tudingan melakukan korupsi.

Namun dalam perjalanan hukumnya yang panjang, ‘agam batat’ (pria bengal tapi baik hati) bahkan tak terbukti bersalah. Rakyat Aceh dan para loyalis Irwandi Yusuf pun tak percaya sedikitpun pemimpin yang dekat dengan anak yatim dan fakir miskin itu melakukan perbuatan keji dan memalukan korupsi. Bahkan apa yang dialami pemimpin Aceh yang visoner dengan program-program pro rakyatnya itu (bahkan JKA ditiru secara nasional), lebih pada masalah ‘politis’ kelas tinggi. Beberapa pengamat juga menilai elit Jakarta terlalu paranoid kepada sepak terjang Irwandi yang pergaulanya sangat luas secara internasional. Irwandi dimata saya adalah kepala daerah yang pemikiranya sudah setara  kepala pemerintahan sebuah negara. Jakarta membaca situasi ini dan terus mengikuti perkembangan ‘aksi-aksi populis’ Irwandi sebagai sebuah ‘a nasionalis’ yang berlebihan bagi elit RI. Ia pun harus cepat-cepat dibungkam agar tak menebar virus ‘terlalu maju’.

Padahal kalau boleh jujur, Jakarta seharusnya mengodok Irwandi menjadi SDM terbaik anak negeri. Ia layak masuk  dalam jajaran pemikir bangsa karena berbagai terobosan program pro rakyat dan pembangunan yang ia canangkan sejatinya dipresiasi, diberi award dan dijadikan tauladan bagi kepala daerah lainya. Mungkin saja diangkat menjadi menteri, bukan dicurigai, ditangkap dan dibungkam. Negara mesti melepaskan Irwandi demi marwah perdamaian Aceh, demi kesuksesan program Aceh Hebat yang dilahirkan dari mantan pemberontak yang sudah berintegrasi dengan negara. Sudah saatnya jakarta membuang jauh-jauh rasa curiga yang berlebihan Aceh. Aceh itu modal bagi RI, Aceh itu adalah daerah yang sangat berjasa bagi RI. Jangan engkau balas dengan membungkam pemimpin Aceh karena itu sama artinya menghambat pembangunan. Lihat saja kondisi terakhir Aceh saat ini, semua serba ‘Plt’. Plt Gubernur sangat kikuk dan linglung menjalankan pemerintahan sepeninggal Irwandi. Program Aceh Hebat terancam gagal total apabila Irwandi masih terpenjara jiwa dan raga. Anak-anak yatim dan fakir miskin seakan kehilangan arah dan tujuan. Tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk berkeluh kesah dan menyampaikan nasib masa depanya yang suram. Save Irwandi ! | Halim El Bambi/Milah Yabmob | LOOKAGE.ID

You might like

Halim El Bambi

About the Author: Halim El Bambi

Founder LOOKAGE.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!