Ini Sosok yang Ubah Wajah Lamteuba dari Surga Ganja ke Lahan Kunyit

“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.

Sebuah lirik lagu dari Koes Plus ini rasanya tepat menggambarkan Desa Lamteuba di Aceh Besar. Daerah yang terletak di bawah kaki Gunung Seulawah Agam ini mampu menghasilkan beragam produk pertanian dengan kualitas terbaik.

Bukan cuma dimanfaatkan untuk pertanian, tapi juga lahan ganja. Bahkan pernah ditemukan ratusan hektare tanaman ganja oleh aparat setempat pada 2011 silam sehingga tempat ini malah dikenal sebagai daerah hitam.

Meski demikian, di balik cap daerah penghasil tanaman mariyuana yang terus melekat, ada salah satu warga yang terus berjuang mengubah stigma tersebut. Dia adalah Sulaiman.
Baca juga: Intip Desa Lamteuba, dari Dana Desa sampai Ubah Lahan Ganja ke Kunyit

Mantan Keuchik Gampong Blang Tingkeum, Lamteuba, Aceh Besar ini fokus menjadi petani kunyit untuk memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat gampong alias masyarakat kampung. Saban hari ia lakoni hidupnya dengan memproduksi kunyit untuk memenuhi kebutuhan pasar.

“Karena image ganja ini, orang-orang yang mau membantu mengembangkan daerah kami mereka sedikit was-was mengingat Lamteuba sebagai daerah hitam,” kata Sulaiman saat ditemui detikcom di kediamannya, Rabu (18/9/2019).

Sebagai putra asli Lamteuba, Sulaiman pun tak tinggal diam. Menilik potensi daerahnya yang mayoritas pertanian. Ia mengajak warganya untuk beralih menanam tanaman alternatif lainnya yang dapat memberikan manfaat.

“Karena kami tidak ingin tercemar dengan hal-hal negatif, jadi kami mencoba mengajak petani yang dulunya menanam ganja untuk beralih menanam kunyit ini, karena selain mudah cara pengelolaannya, hama juga tidak ada,” ujarnya.

Pada awal-awal penanaman kunyit, disebutkannya, tak banyak petani yang berminat. Mengingat harga jual kunyit saat itu cenderung kecil hanya Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per Kg yang di beli oleh tengkulak dari luar Aceh.

Sulaiman pun kemudian berpikir lebih kreatif. Di bantu oleh Dokter pertama di Lamteuba, Sulaiman bersama warga membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) guna memproduksi kunyit bubuk halus. Hal ini dilakukannya semata-mata untuk meningkatkan nilai jual kunyit.

Dari sekitar 5 hektare lahan kunyit di satu gampong, kini budidaya kunyit sudah meluas hingga 100 hektare di delapan gampong di Lamteuba. Dengan semangat kolektif ini, lambat laun kunyit Lamteuba terus berinovasi dan dikenal oleh masyarakat luas.

Berbagai kemasan dibuatnya untuk memberikan kesan menarik. Dari mulai kemasan sachet ukuran 5 gr, bentuk mangkok ukuran 50 gr hingga ada satu pack besar dengan ukuran 1 Kg dengan harga Rp 80.000.

Atas konsistensi dan inovasi nya dalam mengembangkan usaha rumahan ini, Sulaiman mampu mendapatkan sejumlah penghargaan salah satunya Adhikarya Pangan dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kini ia sering diundang oleh beberapa instansi terkait karena pengembangan budidaya kunyit ini.

Geliat usaha kunyit ini pun mampu dikenalkan oleh Universitas Syiah Kuala hingga ke Malaysia dan Singapura. Tentunya ini memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Adapun, kementerian desa setempat, dikatakannya, juga membantu dalam mempromosikan kunyit ini melalui inovasi desa.

“Berkat dari kementerian desa yang membantu membuat promosi lewat video (inovasi), Alhamdulillah permintaan dari luar itu semakin banyak dan bertambah,” ungkapnya.

Sulaiman menuturkan meski kunyit di Lamteuba sudah banyak. Ia memiliki tantangan baru yakni harga pasar yang masih rendah dan juga biaya pengiriman. Walaupun begitu, ia tetap bersyukur kunyit ini mampu memberikan manfaat bagi warga di sekitarnya.

“Dengan menanam kunyit memang penghasilannya kalau dibandingkan dengan ganja itu sangat tidak masuk dalam kategori besar. Namun kesejahteraan, kenyamanan kehidupan terhadap keluarga anak, dan yang lebih penting mereka tidak dianggap sebagai perusak di daerah kami,” tandasnya. | detik

You might like

Halim El Bambi

About the Author: Halim El Bambi

Founder LOOKAGE.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!